10 Mar 2016

MAHASISWA; Tantangan Politik dan Mercuar Ditengah Masyarakat

Mahasiswa di era sekarang dituntut untuk bisa berperan aktif lebih banyak lagi dalam berbagai persoalan, terutama menyangkut pesoalan bangsa. Fungsi kontrol perlu ditunjukkan oleh mahasiswa. Karena peran mahasiswa sangat diharapkan oleh masyarakat, tak berlebihan jika banyak harapan yang dipikul oleh mahasiswa. Sebab dalam kerangka sosial mahasiswa mempunyai peran dan fungsi yang cukup penting. Mahasiswa di sini diharapkan berperan sebagai agen pengawasan (agent of control) dan agen dalam menuju perubahan ke arah yang lebih baik.

          Agenda besar mahasiswa sebagai Agen Pengawasan (Agent of Control) bukan menjadi praktisi intelektual akademisi yang hanya duduk sambil mendengarkan dosen didalam forum perkuliahan, hanya berkutat pada dunia perkuliahan, Namun, lebih dari pada itu mahasiswa harusnya dituntut untuk berperan dalam agen perubahan (agent of change) dan “social control” yang terjadi di sekitarnya. Masa depan negeri ini membutuhkan keterlibatan mahasiswa dalam berbagai hal dengan pemikiran-pemikiran cerdasnya dan kegiatan-kegiatan intelektual yang dilakukan.

          Peran dan pengabdian mahasiswa dalam pengawasan (agent of control) berbagai kebijakan pemerintah dapat di wujudkan dengan membangun organisasi/kelompok/aliansi yang berperan mengawasi dan memberi masukan pada saat perumusan suatu kebijakan pemerintah, ikut bersama-sama mengawasi implementasi kebijakan yang telah dilakukan, dan mengawasi sekaligus mengevaluasi efektivitas saat pelaksanaan kebijakan dan manfaatnya bagi masyarakat.

Masalah utama kurangnya kesadaran berpolitik di kalangan mahasiswa adalah karena cukup kurang adanya contoh perilaku baik, terbuka, berjuang penuh demi bangsa dan negara pada elit-elit politik. Namun mudah-mudahan dengan masuknya mahasiswa ke dalam suatu organisasi/lembaga sosial kemasyarakatan, dapat menjadi batu loncatan kesadaran mahasiswa dalam perannya ikut memberi solusi dalam berbagai masalah bangsa untuk mencapai suatu kemakmuran.

Banyak peran yang dapat dilakukan seorang mahasiswa sebagai kaum Intelektual di dalam suatu organisasi. Dapat juga membuka pikiran untuk mengetahui tujuan menjadi mahasiswa yang Intelektual agar menjadi agen perubahan dan agen pengawasan dalam pengabdian demi kepentingan rakyat. Pertanyaannya apakah saat kuliah, hanya diperuntukkan untuk mencari ilmu demi modal kelak kerja semata lantas pengabdian terhadap negara dikesampingkan begitu saja?

Gerakan berpolitik mahasiswa saat ini kerap ditunjukkan dengan gerakan suatu aksi dengan turun ke jalan. Dalam melakukan gerakan tersebut, kepedulian mahasiswa akan masalah dan situasi politik harus bertumpu pada idealisme kerakyatan, yaitu mengkritisi peran atau kebijakan penguasa yang tidak sesuai dengan aspirasi rakyat dengan memberikan solusinya. Maka dari itu, pengabdian tidak harus menunggu selesainya kuliah. Memperjuangkan kepentingan rakyat dan negara ketika masih kuliah, merupakan bagian dari pengabdian sebagai tindakan kepedulian mahasiswa akan berbagai masalah bangsa dan polemik politik. Jadi pengabdian bukan hanya mengajar seperti guru atau semacamnya. Melainkan terlibat dalam kegiatan yang bermanfaat bagi kepentingan rakyat jelas bagian dari suatu pengabdian. Namun banyak juga anggapan apakah gerakan turun ke jalan yang selama ini sering dilakukan oleh mahasiswa, timbul karena idealisme sendiri untuk rakyat ataukah malah karena suruhan golongan tertentu.

Pendidikan politik pada masyarakat dilakukan sebagai wujud tanggung jawab mahasiswa kepada masyarakat. Adapun wujud dari peran ini adalah adanya agenda mahasiswa seperti: bedah visi dan misi calon kepala daerah, melakukan kajian terhadap kapasitas dan integritas calon kepala daerah, membuat kriteria calon kepala daerah versi mahasiswa atau membuat nota kesepakatan dalam bentuk kontrak politik kepada calon kepala daerah.

Target dari agenda-agenda ini adalah, masyarakat dapat menentukan pilihannya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang rasional, bukan berdasarkan kharismatik semata. Dalam pelaksanaan peran ini, etika yang harus dibangun oleh setiap organisasi mahasiswa adalah sikap objektifitas dan akuntabilitas. Objektifitas yang dimaksud ialah pembedahan visi/misi, pembuatan kriteria calon kepala daerah,dilakukan dengan tanpa disusupi oleh kepentingan politik praktis. Hal ini penting, sebab mahasiswa sebagai sebuah gerakan moral, mesti bersikap netral dan berpihak kepada masyarakat luas.

Sedangkan akuntabilitas, adalah penilaian yang diberikan oleh sebuah organisasi mahasiswa, yang harus bisa dipertanggungjawabkan kesahihannya, artinya, bila mahasiswa menilai seorang kepala daerah yang terindikasi melakukan tindak penyelewengan kekuasaan maka data dan fakta yang disampaikan harus dapat dibuktikan, bukan sekedar isu belaka, sehingga kepercayaan masyarakat tetap besar terhadap gerakan mahasiswa.
Sebagai generasi yang tingkat pendidikannya tinggi, semestinya mahasiswa diharapkan harus dan sewajarnya ikut berperan sebagai pengontrol (agent of control) dinamika perjalanan bangsa.

Mahasiswa harus perperan ikut mengawasi untuk memastikan dinamika politik menjurus ke arah yang sepenuhnya untuk kepentingan rakyat. Hal inilah yang kemudian seharusnya menjadi kesadaran bagi para mahasiswa agar mau peduli dalam kancah perpolitikan dan peduli akan kemajuan tanah air.

Bilamana selama ini banyak tindakan anarkis yang dilakukan saat mahasiswa melakukan aksi turun ke jalan, seharusnya janganlah selalu menuduh bahwa kelakuan tersebut merupakan tujuan selanjutnya sesaat setelah aksi bersuara membela kepentingan rakyat.

Bisa saja mereka berbuat semacam itu karena adanya provokasi, adanya penyusup, tunggangan golongan terntentu (seperti penjelasan tadi), atau bisa juga terbawa emosi. Diharapkan mahasiswa sadar bahwa saat ini musuh mereka adalah kemiskinan, korupsi, dan hal-hal lain yang mengganggu masalah kepentingan masyarakat dan kemakmuran bangsa.Bukan malah berselisih dengan pemerintah,apalagi pihak keamanan.

Tidak semata-mata juga mahasiswa hanya melakukan aksi turun ke jalan dan berkoar melakukan orasi dalam menyampaikan cerminan dari kondisi bangsa saat sedang ada masalah. Bisa jadi itu hanya awal dari sekian langkah yang akan ditempuh mahasiswa untuk mengakomodir kepentingan rakyat.

Semua warga negara termasuk mahasiswa berhak untuk berpartisipasi dalam pengawasan, formulasi, serta implementasi kebijakan pemerintah yang digulirkan. Namun mahasiswa mempunyai peran yang lebih strategis dalam mengawal kekuasaan agar output kebijakan dapat berpihak pada masyarakat.

Sekali lagi mahasiswa diharapkan dapat terjun ke arena politik dalam rangka berpartisipasi dalam pengawasan, formulasi, serta implementasi kebijakan pemerintah.

Demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang sejahtera, makmur dan berkeadilan secara demokratis. Disini mahasiswa secara individual maupun kelompok, harus berani unjuk gigi dalam mengajukan gagasan, pikiran, solusi atau interpretasi mengenai apa yang menjadi kehendak dari mayoritas rakyat demi kepentingan masyarakat dan bangsa.


18 Feb 2016

Bolehkah Aku Katakan Cinta Tuhan ?

          Sesungguhnya yang mendatangkan rasa cinta ini, yang mendatangkan rasa kagum ini, yang memekarkan hati ini adalah dari-Nya. Sungguh aku hanya bisa menerimanya. Aku hanya bisa pasrah tertegun tak bisa mengelak atas perasaan ini padamu.

Tertegun dalam keindahan akhlakmu. Tertegun dalam manisnya lisanmu. Tertegun dalam tenangnya pandanganmu. Dan tertegun pula dalam kesejukan nasehatmu. Semua begitu sempurna, sungguh sempurna. Sesempurna sesuai firman-Nya.

Aku yang mengagumimu dalam diam. Utuh tak tersentuh. Seperti mentari yang menyapa bunga-bunga bermekaran. Tak pernah menyentuh namun cintanya terasa bagi kuntum-kuntum bunga yang sedang bermekaran itu.

Karena aku mengagumi maka izinkan aku tak mengusik khusyunya ibadahmu. Izinkan aku tak mengusik ketenangan hatimu. Tak mengapa aku tak bertegur sapa denganmu. Cukuplah bagiku menyapamu dalam doa-doaku.

Cukuplah bagiku tersenyum lezat melihatmu bahagia. Cukuplah bagiku menyebut namamu dalam hamparan sajadahku.

Aku yang tersentuh akhlak muliamu, aku yang terkagum lekat dalam sikapmu, mencintaimu dalam diam mungkin lebih baik bagi diriku dan dirimu. Lebih mulia bagi perasaanku dan perasanmu. Lebih menjaga kehormatanmu. Lebih menjaga kemuliaanmu. Maka izinkan aku, hai engkau yang begitu mulia, izinkan aku mencintaimu dalamn keikhlasan karena aku tak pernah tau apakah engkau yang tercatat dalam lauful mahfudz untukku?

Karena aku tak pernah tau adakah balasan darimu untukku. Biarlah kuasa Allah yang menggerakan hatimu untukku.

Bukan karena mencintaimu dengan diam aku akan menderita. Bukan karena mengagumimu dengan diam aku akan merana.

Namun, ketika ku artikan cinta itu pada sisi kehadiran dan kebersamaan denganmu. Maka itu lah penderitaan yang sesungguhnya.

Aku yang mencintaimu dari kejauhan. Walaupun sungguh aku merasa sangat dekat denganmu.

Biarlah aku dekap rapat perasaanku ini. Biarlah aku tutup rapat hingga Allah mengizinkan pertemuan kita. Namun jika memang engkau bukan tercatat untukku. Jika memang engkau hanya hiasan duniaku yang sementara, sungguh aku yakin Allah akan menghapus cinta dalam diamku padamu. Allah akan menghilangkan perasaanku untukmu. Dia akan memberikan rasa yang lebih indah pada orang yang paling tepat. Begitulah kuasa-Nya. Begitulah Dzat yang membolak-balika n hati hamba-Nya.

“Ketika aku tak lagi terkagum denganmu, maka pahamilah jejakku.. Karena mungkin, aku pernah menulis tentangmu dan meyapa namamu dalam tiap untaian doaku”

Pemuda Modal Kemajuan Bangsa

Peran Pemuda dalam pertahanan suatu bangsa merupakan suatu keniscayaan dan sangat strategis. Sebagai bagian dari komponen bangsa yang sangat potensial, pemuda memiliki posisi yang strategis dan berada di garda paling depan, dalam mengakomodasikan tumbuhnya kader-kader pemimpin bangsa pada berbagai sektor kehidupan nasional. Sebagai bagian dari potensi bangsa, maka pemuda harus mampu berkiprah untuk menghadapi tantangan global.

Dalam catatan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, peran pemuda demikian sangat menonjol. Bahkan Presiden RI pertama, Ir. Soekarno pernah mengatakan : “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. 

Harus kita akui bahwa setiap perubahan besar yang terjadi di bumi pertiwi ini selalu dimotori oleh gerakan pemuda, misalnya; perang merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, lahirnya budi utomo pada era kebangkitan   nasional  Tahun 1908, lahirnya sumpah pemuda 1928, perang untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajah yang berambisi untuk menjajah kembali, gerakan anti KKN dan lahirnya era Reformasi dan lain sebagainya.

Berdasarkan fakta sejarah tersebut, dapat dikatakan bahwa pemuda memiliki peran yang penting terhadap eksistensi dalam kehidupan nasional bangsa Indonesia, termasuk dalam pertahanan bangsa. Pemuda merupakan bagian integral dari pertahanan bangsa, sehingga peran aktifnya tidak mungkin diabaikan. Pemuda yang kuat berdaya saing, berwawasan, cerdas dan berkepribadian merupakan salah satu modal utama terwujudnya ketahanan nasional yang tangguh. 

Dalam konteks pembangunan karakter bangsa yang berdaya guna bagi terwujudnya ketahanan nasional yang tangguh, maka pemuda harus berperan, pertama, sebagai pembangun kembali karakter bangsa (Character Builder). Dengan semangat dan kerja keras maka pemuda-pemudi Indonesia harus menjadi motor penggerak bangsa untuk membangun kembali jati diri dan karakter bangsa yang telah luntur, sehingga mampu bersaing dengan bangsa lainnya.

Kedua, Sebagai pemberdaya karakter bangsa (Character Enabler). Generasi muda menjadi role model dari pengembangan karakter bangsa yang penuh inisiatif dan akomodatif dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa, untuk mengatasi setiap permasalahan bangsa. Generasi muda harus mampu memberdayakan dan menghidupkan kembali nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, keramah-tamahan sosial, dan rasa cinta tanah air yang merupakan kekuatan pemersatu dan ciri khas bangsa Indonesia. 

Ketiga, Sebagai perekayasa karakter bangsa (Character Enginer). Generasi muda dengan cita-cita dan energitas yang tinggi harus mampu mengaplikasikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk merevitalisasi jati diri dan karakter bangsa agar senantiasa relevan dengan perkembangan jaman.

Pembangunan karakter bangsa Indonesia menuju bangsa yang mandiri dalam menghadapi era globalisasi tentunya harus tetap berfokus pada penanaman nilai-nilai Pancasila terhadap generasi muda penerus bangsa yang secara aktif dilakukan oleh seluruh komponen bangsa bekerjasama dengan pemerintah. Melalui pembangunan karakter bangsa seperti itulah, maka ketahanan nasional bangsa Indonesia akan semakin tangguh menghadapi berbagai tantangan global dewasa ini.

Sejarah juga mencatat bahwa kemanunggalan seluruh komponen bangsa termasuk didalamnya para pemuda merupakan strategi dan kekuatan ampuh dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Kebersamaan di antara semua komponen bangsa akan menjadi modal utama dan pondasi bagi upaya mewujudkan stabilitas nasional. Dengan terciptanya sinergitas, yang kokoh kuat di antara seluruh komponen bangsa, niscaya segala tantangan dapat dihadapi dengan baik.

Oleh karena itu, semangat kebersamaan, kekeluargaan dan sinergitas  yang telah terbangun dengan baik selama ini tentunya harus terus dipelihara dan ditingkatkan. Kita semua harus menumbuhkan kemauan dan kesadaran bersama untuk saling bersinergi dan membangun interoperabilitas. Kita tidak boleh mengandalkan ego sektoral, merasa paling hebat dan paling berperan.

Semua pihak, harus lebih mengutamakan kepentingan masyarakat, berpikir untuk kepentingan yang lebih luas, kepentingan umum, masyarakat, bangsa dan Negara, sehingga mampu membawa bangsa ini menjadi lebih baik, aman dan maju. Pepatah  mengatakan “Berikan semua yang bisa kau berikan,“ dan bukan “Dapatkan semua yang bisa kau dapatkan“.