10 Des 2017
27 Apr 2017
HMI; Beban Sejarah dan Tantangan Masa Depan
![]() |
| Boestami Abdya |
“Masa lalu tak bisa diraih kembali,
kendati kita dapat belajar darinya‚ masa depan belum kita miliki tapi kita
harus merencanakannya. Saatnya adalah sekarang. Yang kita miliki hanya hari ini”.–
Charles Hummell
Faktanya,
sejarah mencatat bahwa “kemerdekaan
Negara Kesatuan Republik Indonesia dimulai dengan adanya kesadaran kolekif kaum
muda dan semangat nasionalisme yang kuat dengan ditandai lahirnya organisasi
Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 dan ikrar kebangsaan Sumpah Pemuda pada tanggal
28 Oktober 1928”(Mulyadi P. Tamsil‚2016).
Tak ubahnya sebuah pergerakan
Himpunan mahasiswa Islam atau disingkat HMI‚ yang juga lahir atas dasar
kesadaran mahasiswa tingkat pertama ialah Ayahanda Lafran Pane‚ dkk. Kesadaran
ini tumbuh karena didasari pada ketauhidan baik secara personal maupun sosial.
Dimana kondisi mahasiswa khususnya dan juga masyarakat pada umumnya kehilangan
jati diri terhadap nilai - nilai KeIslaman dan KeIndonesia ketika itu. Sehingga‚
sejak awal berdirinya HMI mempunyai komitmen asasi yang disebut dengan dua
komitmen asasi, yakni Pertama‚
Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat bangsa
Indonesia, yang dikenal dengan komitmen KeIndonesia/Kebangsaan, dan Kedua‚ Menjalankkan/Menegakkan dan
mengembangkan ajaran Islam, yang dikenal dengan wawasan Keislaman/keumatan.
Maka,
atas kondisi ini, Lafran Pane dan kawan - kawanya berinisitaif mendirikan
organisasi kemahasiswaan yang berlabelkan Islam. Organisasi tersebut kemudian
diberi nama Himpunan Mahasiswa Islam atau disingkat HMI. Meskipun pada waktu
itu status ia sendiri adalah sebagai salah satu pengurus PMY, dengan mendirikan
HMI, ia dibenci oleh kawan - kawannya di PMY dan bahkan kemudian dipecat dari
anggota PMY. Ia dianggap sebagai pembangkang dan sosok yang akan mengancam
keberadan PMY.
Menurut
Lafran Pane, motivasi utama didirikannya HMI adalah sebagai berikut :
“… Sebagai alat mengajak mahasiswa -
mahasiswa mempelajari, mendalami ajaran Islam agar mereka kelak sebagai calon
sarjana, tokoh masyarakat maupun negarawan, terdapat keseimbangan tugas dunia -
akhirat, akal - kalbu, serta iman - ilmu pengetahuan, yang sekarang ini keadaan
kemahasiswaan di Indonesia diancam krisis keseimbangan yang sangat
membahayakan, karena sistem pendidikan barat. Islam harus dikembangkan dan
disebarluaskan di kalangan masyarakat mahasiswa di luar STI (Sekolah Tinggi
Islam), apalagi PMY secara tegas menyatakan berdasarkan non-agama…” (Saleh, 1996).
Rekaman
serpihan sejarah ini sengaja diangkat untuk menggambarkan betapa tidak mudah
mengembangkan tradisi intelektual. Namun demikian, sisi yang lain melukiskan
betapa penting tradisi tersebut dijaga, dirawat, dikembangkan, dan dibangkitkan
secara terus - menerus dalam dinamika kehidupan HMI. Sejarah mencatat bahwa HMI
pernah melahirkan cendekiawan besar Nurcholish Madjid, juga banyak tokoh
lainnya, dan sebaliknya kehadiran sosok Nurcholish Madjid telah memberikan
warna dan nafas intelektual dalam sejarah HMI. Intelektualitas dan
intelektualisme adalah pertanda hidupnya dari organisasi mahasiswa dan
komunitas - komunitas terdidik.
Dalam
sambutan Ketua Umum PB HMI Periode 2013 - 2015 Kakanda Muh. Arief Rosyid Hasan pada Dies Natalis HMI ke 68‚
mengatakan; “Sejarah HMI menjadi berharga karena dukungannya secara terus - menerus
terhadap perkembangan bangsa Indonesia. Figur - figur besar seperti Lafran
Pane, Ahmad Dahlan Ranuwihardjo, Nurcholish Madjid, atau para syahid seperti
Ahmad Wahib dan Cak Munir, adalah telaga hikmah yang menyediakan teladan bagi
kita semua untuk terus menyegarkan semangat dalam berjuang bagi kemajuan
masyarakat. Dari mereka kita belajar, siapa mau berjuang niscaya harus bersedia
menanggung kerugian kecil dan bersifat sementara untuk diri sendiri, dengan
berani memusatkan perhatian pada usaha mewujudkan kebajikan bagi orang banyak.
Suatu usaha yang dilandasi keyakinan bahwa tidak ada keberhasilan tanpa jerih
payah, sebagaimana tidak akan ada bahagia hari raya tanpa berpuasa”.
“Sudah saatnya HMI kembali mengevaluasi diri,
tidak hanya bernostalgia dengan romantisme sejarah kebesaran HMI. Karena jauh
kedepan tantangan zaman senantiasa berbeda. Hal inilah yang harusnya menjadi
fokus perhatian HMI untuk selalu menyiapkan kader - kader intelektual dan
professional yang merupakan output perkaderan HMI dengan harapan akan mampu
menjawab setiap tantangan zaman”(Harian Pelita‚ Hal 19‚ Kamis‚ 27 Desember
2012). Kaderisasi ini secara umum akan menghasilkan kader - kader yang bersikap
dan berperilaku kosmopolitan, yaitu seorang kader yang mempunyai wawasan dan
pengetahuan yang luas, terbuka dan tidak parokialistik (berwawasan sempit dan
picik) serta toleran atau sikap saling menghargai, karena sikap fanatik
terhadap madzab atau golongan sendiri yang menyebabkan mundurnya suatu
peradaban. Dengan sikap inklusivisme inilah akan dapat mengembalikan HMI
menjadi anak umat dan bangsa.
Tantangan
sebagai kader Umat dan Kader Bangsa‚ HMI terus dihadapkan dengan berbagai
kompleksitas dan perubahan sosial masyarakat Indonesia. Keberagaman inilah
menjadikan tantangan HMI menjadi lebih komplek pula. Mulai dari dinamika
perubahan sosial‚ pemikiran‚ Ancaman baik dari internal maupun Eksternal serta
pengaruh Era Globalisasi dan tantangan dunia organisasi kemahasiswaan. Disamping
itu juga secara IPTEK‚ HMI harusnya telah mampu memanfaatkan Teknologi sebagai
peluang untuk terus menjadikan HMI sebagai Organisasi Modern‚ Seperti penulis
Kutip Statement Kakanda Akbar Tandjung “Sebaran
kader-kader HMI kini kian meluas di berbagai daerah di Indonesia, yakni
mencapai 600.000-an kader dengan jumlah 215 cabang se-Indonesia. Hanya saja,
pendataan tentang jumlah keanggotaan baik keanggotaan kader, maupun alumni
belum terdata secara valid. "Kedepan perlu adanya modernisasi dengan
sistem pendataan secara online, sehingga kader-kader organisasi ini bisa
terlacak secara online," (Republika News‚ Kamis , 27 April 2017, 16:35
WIB). Oleh sebab itu setiap kader HMI memiliki kewajiban menuntut ilmu dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai kunci kemajuaan dan
bersedia mengamalkannya dengan ikhlas sebagai ikhtiar untuk membangun dan
mengabdi pada umat, bangsa dan Negara.
Akhirnya‚
penulis sadari masih kurangnya analisa kritis untuk memadai penulisan ini‚
kepada pembaca penulis minta maaf jika ada kesalahan tutur kata yang tidak
sesuai‚ namun penulis yakini bahwa ini merupakan ijtihad penulis sebagai kader
HMI untuk terus berproses dalam mencapai 5 Kualitas Insan Cita‚ Semoga tulisan
ini bermanfaat bagi penulis sendiri dan juga bagi kita semua. Wallahu ‘alam..
Yakinkan Dengan Iman
Usahakan Dengan Ilmu
Sampaikan Dengan Amal...
Source : INDEPENDENSI.id
19 Des 2016
Ku Injak kaki Bumi Yang Tak Bertepi (Part I)
Suara
zikir alam keluar dari makhluk Tuhan tanpa suara yang lantang, nyanyian malam
membawa ku ke pembaringan untuk menikmati sisa waktu untuk melepas kepenatan ku
pada siang. Hanya saja mata yang terus memaksa untuk tetap terjaga mengenang
tahun demi tahun yang telah berlalu. Kehidupan yang ku lalu terasa serba sederahana, Dimana saat masa kanak - kanak yang sering menikmati fajar pagi di
tengah sawah yang dibajak bersama sosok laki - laki yang bertubuh ramping namun
kekar bak baja logam hitam nan murni.
ya…
dia adalah sosok ayah yang selalu membimbing dengan sikap disiplin dan penuh
tanggung jawab. pada usia kanak - kanak, ayah mengajarkan kepada ku tentang
arti sebuah kehidupan. tak sadar ingatan ku semakin jelas dan terang mengenang
sosok beliau, ayah yang setiap pagi selalu menyiapkan peralatan kerja dan tak
ketinggalan sebuah cangkir besar berukuran satu liter didalamnya sudah tersedia
kopi hitam buatannya sendiri.
tepat
pada jam 5.30 WIB beliau sudah memangkul tas berisi 3 bungkus nasi yang sudah
dicampur air garam, serta pakaian lusuhnya untuk bekerja. Nasi dicampur air
garam? ya…. nasi itu sebenarnya diberikan untuk kerbau kami yang tugasnya
sehari - hari bertugas membajak sawah. suara langkah ayah terdengar ketika
beliau mulai keluar rumah saat saya sedang bertugas membantu ibu membersihkan
rumah.
Ayah
yang sedari tadi berdiri berjalan keluar sambil memanggil ku untuk ikut bersama
beliau. “Nak…. sudah selesai kah tugas mu? saya yang dari sudah mempersiapkan
bekal sambil berkata “Sudah Yah!!. Baiklah sekarang kita ambil kerbau dulu ke
kandangnya, jangan lupa kita beri di makan pagi, kalau tidak cacing diperutnya
perang dunia”, kata ayah sambil terkekeh tertawa.
Setelah
selesai memberikan makan kerbau, kami bergegas ke sawah walaupun fajar belum
menampakkan sinarnya. itulah alam desa, ketika sawah bak kota di pagi hari
dengan berbagai aktifitasnya, kami disawah tak ubahnya seperti kota. Dimana
setiap pagi orang sudah ramai di sawahnya masing - masing dengan berbagai
kegiatan, ada yang membajak sawah, catok
ateung blang (membersihkan pematangan sawah) dan teumabu bijeuh (Semai benih). Kini, disawah giliranku mengaliri
sawah agar sewaktu ayah membajak sawah tanahnya tidak terlalu keras dan kerbau
kami tidak cepat capek. Tugas ku pun selesai, saya takjub melihat kerbau kami
yang begitu besar, sampai - sampai saya meminta naik atas pundaknya, yaaahhh,,,
ayaaah saya naik atas pundak kerbau boleh ya? namun dengan penuh kelembutan
ayah mengatakan “nak.. ketika makhluk Tuhan diberikan kekuatan bukan berarti
kita bias semena - mena, coba bayangkan kerbau kita sedang bekerja untuk
memenuhi kebutuhan kita, namun kita malah membuat dia jera, bagusnya sekarang
kamu hidupin api biar ada asap dengan begitu tidak banyak nyamuk yang menggigit
kerbau kita” sebagai bocah kecil, saya tentu belum puas dengan jawaban ayah.
Namun tetap nurut apa yang dikatakan beliau.
Tak
terasa matahari mulai panas, menandakan sudah waktunya istirahat. Ayah yang dari
tadi menyadari sudah saatnya istirahat, mulai melepaskan tali pengait bajak
dari kerbau. dan mengikat kerbau disisi parit yang berair dekat sawah kami.
Agar kerbau bisa beristirahat sambil menikmati segarnya air. Ayah mengajak ku
ke Gubuk ditengah sawah kami yang sengaja dibuat untuk kami berteduh. Disitulah
saya kembali bertanya, “ayah kenapa saya ngak boleh menaiki kerbau yang sedang
bekerja”? sambil sesekali memandang kerbau yang sedang menghempaskan ekor ke
tubuhnya.
Ayah
dengan sabar menjelaskan dengan bijak “Nak.. Allah menciptakan makhluknya untuk
saling menimbang rasa, sama halnya dengan manusia tatkala dia sedang bekerja
dia akan merasakan begitu capeknya bekerja, sampai - sampai terkadang kita
sendiri butuh istirahat sepertinya kita sekarang ini” sambil beliau sesekali
meneguk kopi yang dari tadi sudah dingin. “Hanya saja kerbau tidak bisa
berpikir dan berucap, beda dengan manusia yang diberikan akal oleh Allah untuk
berpikir, maka dari itu manusia harus menggunakan akalnya untuk kebaikan”
sambung beliau. Dari itulah saya sedekit demi sedkit mulai menyadarinya.
Waktu
istirahat sudah berlalu, kini ayah kembali membajak sawah sampai tengah hari,
ketika matahari mulai tepat diatas kepala kami, Ayah mulai berhenti dan
melepaskan tali pengait bajak tadi dari kerbau. beliau menyuruh saya untuk memasukan
peralatan tadi ke dalam tas, dan kami pulang sambil membawa kerbau untuk diikat
di sungai belakang rumah kami.
Sesampai
dirumah saya bergegas mengambil peralatan mandi untuk ikut bersama ayah mandi
disungai, karena tempat mandi kami agak jauh dari rumah, ayah seringkali
menggedong saya dipunggungnya untuk melewati jalan yang banyak ditumbuhi
tumbuhan berduri seperti putri malu.
Selesai
mandi ayah seringkali tidak langsung pulang kerumah, tapi beliau singgah ke
mushala/meunasah untuk shalat tentu semua peralatan shalat sudah dibawa sama
ayah, begitu juga halnya dengan saya, karena sudah tahu ayah pasti singgah dulu
untuk shalat. Setelah shalat dan berzikir ayah mengajak ku kembali kerumah.
sesampai dirumah kami makan siang bersama ada ayah dan ibu. ibu yang sudah
menunggu daritadi mulai menyiapkan makanan buat kami, ada sayur bening, ikan
asin dan sedikit cemilan. Saya sungguh bersyukur kepada Allah atas limpahan
rezeki dan diberikan orang tua yang begitu sederhana namun penuh dengan kasih
sayang. selesai makan, saya mencoba rebahkan tubuh ditikar padan yang dibelikan
ibu dari pedagang keliling, sambil merebahkan tubuh saya tetap mengambil buku
bacaan apapun untuk dibaca, kadang - kadang buku Pendikan Moral Pancasila (PMP)
sampai terkadang tanpa sadar saya tertidur sambil buku diatas dada.
Kenangan
itu menerawang jauh, tanpa sadar malam sudah berganti pagi, saat itulah saya
mulai tersadar untuk harus memajam mata karena besoknya saya kerja.
Dalam
tulisan ini memang kurang membahas tentang ibu, bukan berarti berbeda dengan
ayah, hanya saja saya focus kan diri untuk mengenang ayah yang sudah tidak
bersama kami lagi. karena malam ini adalah dimana malam dilahirkan. sehingga
tulisan ini special untuk mu ayah, walau engkau tak akan pernah membacanya.
“Happy
birthday … dad” I will remember you in my life.
Waktu
berjalan begitu cepat
Menikam
waktu dan kenangan yang kugenggam bersama ayah
Bermain
dengan puisi bisu saat aku beku
Hilang
kosong di tangan yang raib.
Boestami
Abdya/20/12/2016
Continues
Part II
Langganan:
Komentar (Atom)
